Kamis, 07 Maret 2013

Cerita Singkat


Madrasah Ibtidaiyah Al - Amin adalah sebuah lembaga yang berbasis agama tanpa meninggalkan pelajaran umumnya, yang terletak di daerah terpencil dan terapit oleh 2 pabrik terkemuka yaitu PLTU dari timur dan TPPI dari arah barat. 
walau di desa, MI AL _AMIN juga tak mau ketinggalan dengan dibuktikan mengikuti berbagai lomba antar lembaga MI se - kecamatan maupun diluar kecamatan.
Iin adalah beberapa foto yang dapat kami terbitkan . Semoga barokah, amin ....















KEGIATAN PORSENI KE - 4 TAHUN 2013
DI MI MIFTAHUL HUDA RAWASAN KECAMATAN JENU




                                                   

LIHAT APAAN SIH?.....









KERINGETNYA AMPEK SE JAGUNG JAGUNG AH ............
















YA........... TERBALIK YA PAK?... MAAF DEH ........... 
KWKWKWKWKKW



MBAK LOMPAT KOK SENYUM SEMANGAT DONG ..........




PESERTA MI AL AMIN SEDANG MENG EXPRESIKAN GAYA DEMI MEMPERJUANGKAN NAMA LEMBAGA............




DILUKIS GUS, KOK MALAH LIHAT YANG MOTO ......
KWKWKWKWKW

Kamis, 18 Agustus 2011

Sekilas Tentang Raden Panji


Cerita Panji ialah sebuah cerita yang berasal dari Jawa. Isinya adalah mengenai kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utamanya, yaitu Raden Inu Kertapati (atau Panji Asmara Bangun) dan Dewi Sekartaji (atau Galuh Candra Kirana). Cerita ini mempunyai banyak versi, dan telah menyebar di beberapa tempat di Nusantara (Jawa, Bali, Kalimantan) dan juga di negara-negara lain di Asia Tenggara (Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, Filipina).
Beberapa cerita rakyat seperti "Keong Mas", "Ande-ande Lumut", dan "Golek Kencana" juga merupakan turunan dari cerita ini. Karena terdapat banyak cerita yang saling berbeda namun saling berhubungan, cerita-cerita dalam berbagai versi ini dimasukkan dalam satu kategori yang disebut "Daur Panji" atau "Siklus Panji".
Cerita-cerita dalam Daur Panji banyak digunakan dalam berbagai pertunjukan tradisional. Di Jawa, Cerita Panji digunakan dalam pertunjukan Wayang Gedog. Di Bali (di mana cerita ini dikenal sebagai "Malat"), pertunjukan Arja juga memakai lakon ini. Kisah ini juga menjadi bagian tradisi dari Suku Banjar di Kalimantan Selatan meskipun kini mulai kurang dikenal oleh masyarakat. Di Thailand terdapat seni pertunjukan klasik yang disebut "Inao" (Bahasa Thai:อิเหนา) yang berasal dari nama "Inu"/"Ino". Begitu pula di Kamboja di mana lakon ini dikenal dengan nama "Eynao".



Nama Pelakon (Tokoh) dalam Cerita Panji

  1. Raden Inu (atau Ino atau Hino) Kertapati / Panji Asmara Bangun / Kuda (atau Cekel) Wanengpati
  2. Dewi Sekar Taji / Galuh Candra Kirana
  3. Panji Semirang / Kuda Narawangsa (Dewi Sekartaji dalam penyamaran)
  4. Klana Sewandana / Klana Tunjung Seta
  5. Ragil Kuning / Dewi Onengan
  6. Gunung Sari
  7. Panji Sinom Pradapa
  8. Panji Brajanata
  9. Panji Kartala
  10. Panji Handaga
  11. Panji Kalang
  12. Klana Jayapuspita
  13. Lembu Amiluhur
  14. Lembu Amijaya
  15. Wirun
  16. Kilisuci
  17. Resi Gatayu
  18. Bremanakanda
  19. Srengginimpuna
  20. Jayalengkara
  21. Panji Kuda Laleyan
  22. Sri Makurung
  23. Kebo Kenanga
  24. Jaka Sumilir
  25. Jatipitutur
  26. Pituturjati
  27. Ujungkelang
  28. Tumenggung Pakencanan
  29. Kudanawarsa
  30. Jaksa Negara
  31. Jaya Kacemba
  32. Jaya Badra
  33. Jaya Singa
  34. Danureja
  35. Sindureja
  36. Klana Maesa Jlamprang
  37. Klana Setubanda
  38. Sarag
  39. Sinjanglaga
  40. Retna Cindaga
  41. Surya Wisesa
Relief cerita Panji yang dapat diketahui secara pasti hanyalah terdapat pada beberapa candi saja dalam masa Majapahit. Seringkali orang menyatakan bahwa ciri utama tokoh Panji dalam penggambaran relief dan arca adalah jika ada figur pria yang digambarkan memakai topi tekes, topi mirip blangkon Jawa, tapi tanpa tonjolan di belakang kepala (lebih mirip dengan bIangkon gaya Solo/Surakarta). Badan bagian atas tokoh tersebut digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Pada beberapa relief atau arca ada yang digambarkan membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang, atau ada juga yang digambarkan membawa senjata seperti tanduk kerbau (sebagaimana yang dipahatkan pada Kepurbakalaan (Kep.) XXII/C.Gajah Mungkur Penanggungan) (Bernet Kempers 1959:325-6).
Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur. Karena tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung yang dipahatkan di Candi Surawarna, dan Jabung akan dianggap sebagai tokoh Panji. Demikian Pula tokoh Sang Satyawan yang dipahatkan pada pendopo teras II Panataran dan dua figur pria dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago akan dapat dianggap sebagai tokoh Panji.
Lalu bagaimana penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji? Stutterheim (1935) secara gemilang telah berhasil menjelaskan satu panel relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Pendapat Stutterheim tersebut didukung oleh para sarjana lainnya, seperti Poerbatjaraka (1968) dan Satyawati Suleiman (1978).
Penggambaran relilef Panji Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan (1968:408). Pada panil digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta, tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk di hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti telces. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu Punta dan Kertala. Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Sementara sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin (Poerbatjaraka 1968:408).

[sunting]

Sebagai suatu karya sastra yang berkembang dalam masa Jawa Timur, kisah Panji telah cukup mendapat perhatian para ahli. Ada yang telah membicarakannya dari segi kesusasteraannya (Cohen Stuart 1853), dari segi kisah yang mandiri (Roorda 1869), atau diperbandingkan dengan berbagai macam cerita Panji yang telah dikenal (Poerbatjaraka 1968), serta dari berbagai segi yang lainnya lagi'.
Menurut C.C.Berg(1928) masa penyebaran cerita Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (Pamalayu) hingga ± 1400 M. Ditambahkannya bahwa tentunya telah ada cerita Panji dalam Bahasa Jawa Kuno dalam masa sebelumnya, kemudian cerita tersebut disalin dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu. Berg (1930) selanjutnya berpendapat bahwa cerita Panji mungkin telah populer di kalangan istana raja-raja Jawa Timur, namun terdesak oleh derasnya pengaruh Hinduisme yang datang kemudian. Dalam masa selanjutnya cerita tersebut dapat berkembang dengan bebas dalam lingkungan istana-istana Bali'.
R.M.Ng.Poerbatjaraka membantah pendapat Berg tersebut, berdasarkan alasan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (India). Berdasarkan relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim yang menyatakan bahwa relief tersebut dibuat sekitar tahun 1400 M. Akhirnya Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa mula timbulnya cerita Panji terjadi dalam zaman keemasan Majapahit (atau dalam masa akhir kejayaan kerajaan tersebut) dan ditulis dalam Bahasa Jawa Tengahan (1968:408--9). Penyebarannya ke luar Jawa terjadi dalam masa yang lebih kemudian lagi dengan cara penuturan lisan.

SARANA PENDIDIKAN

Kecamatan Jenu mempunyai banyak tempat pendidikan.

Terdapat SD Negeri / Madrasah Ibtidaiyah ( MI ) di masing-masing desa, dan terdapat 2 (dua) SMP Negeri, yakni SMP Negeri 1 Jenu ada di desa Sekardadi dan SMP Negeri 2 Jenu ada di Desa Sumurgeneng. 

Ada 6 (enam) MTs masing-masing : 1. MTs. Manbail Futuh ada di Desa Beji. 2. Mts. Al Hidayah ada di Desa Jenu. 3. Mts. Hidayatul Mutadiin ada Di desa Sugihwaras. 4. Mts.Miftahul Huda ada di Desa Rawasan. 5. Mts. 6. Ada 2 (dua) SMP Islam : 1. SMP Islam di Socorejo. 2. SMP Islam di Karangasem. 

Madrasah Ibtidaiyah : 1.MI Al - Amin di desa Mlangwe Mentoso . 2. MI Hidayatul Mutadiin di Desa Sugihwaras. 3. MI Manbail Futuh di Desa Beji  4. MI Manbail Huda di desa Kaliuntu. 5. MI Miftahul HUda di desa Rawasan. 6. MI Islamiyah di desa Karangasem. 7. MI Tahdzibul Fuad di desa socorejo 8. MI An - Nur di desa Jenu 9. MI Al - Falahiyah di desa Sumurgeneng. 10. MI Matlabul Huda di desa Jenggolo

Tingkatan SMA sederajat : 1. MA Manbail Futuh di Beji. 2. MA Al Hidayah 3. SMKN Di Ponpes Manbail Futuh. 4. SMA Manbail Huda Begitu pula juga dengan tingkat RA maupun TK dan Play group sudah tersedia di Kec. Jenu

Jumat, 12 Agustus 2011

KEPEMIMPINAN



A. PENGERTIAN
Menurut Stoner :
"Suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan"

Kepemimpinan akan timbul kapanpun dan dimanapun apabila
a. Ada orang yang dipengaruhi,
b. Ada orang yang mempengaruhi,
c. Orang yang mempengaruhi mendorong kepada tercapainya suatu tujuan.

Sifat-sifat tertentu yang penting bagi kepemimpinan yang efektif :
a. Kemampuan dan kedudukannya sebagai pengawas (Supervisor ability)
b. Kebutuhan akan prestasi akan pekerjaan, mencakup pencarian, tanggung Jawab dan keinginan untuk sukses.
c. Kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kreatif dan daya pikir.
d. Ketegasan (decisiveness), atau kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan memecahkan masalah-masalah dengan cakap dan tepat.
e. Kepercayaan diri (Confidency), atau pandangan terhadap dirinya sebagai kemampuan untuk mengahadapi masalah.
f. Inisiatif, atau kemampuan untuk bertindak tidak tergantung, mengembangkan serangkaian kegiatan dan menemukan cara-cara baru atau fnovasi.

Lima ciri-ciri utama yang berpengaruh terhadap kesuksesan kepemimpinan organisasi:
a. Kecerdasan
b. Kedewasaan dan keluwesan hubungn sosial
c. Motivasi diri dan dorongan berprestasi
d. Sikap-sikap hubungan manusiawi
e. Keseimbangan emosi

1. Macam-macam Bentuk Kepemimpinan
a. Pemimpin Formal, yaitu seseorang yang secara resmi diangkat dalam Jabatan kepemimpinan, teratur dalam organisasi secara hirarki. Kepemimpinan formal ini lazimnya tidak dengan sendirinya dapat memberi jaminan bahwa seorang yang diangkat menjadi pimpinan formal dalam organisasi itu akan dapat diterima juga oleh anggota organisasi sebagai pimpinan yang sesungguhnya.

b. Pemimpin Informal, kepemimpinan ini tidak mempunyai dasar pengangkatan resmi, tidak nyata terlihat dalam hirarkhi organisasi. Pemimpin ini dengan spontan diterima baik oleh para anak buahnya, oleh karena pemimpin informal memancarkan daya atau sifat-sifat kepemimpinan yang sesungguhnya seperti :
kemampuan memikat hati orang lain,
dapat menempatkan dirinya tepat diantara anak buah dengan hubungan yang serasi,
memang menguasai organisasi dan tujuannya dengan baik,
memiliki teknik-teknik kepemimpinan yang tepat, dll.

c. Kepemimpinan langsung : Kepemimpinan ini kegiatan dan pengaruhnya dilakukan dengan melalui sikap, perbuatan dan kata-kata orang yang memimpin secara langsung kepada anak buah pengikut atau orang lain yang dipimpin, mereka langsung berhadapan satu sama lain.

d. Kepemimpinan tidak langsung : Yang melakukan kegiatan dan pengaruhnya terhadap anak buah, pengikut atau orang-orang yang menerima pimpinan dengan cara yang tidak berhadapan satu sama lain, akan tetapi melalui perantara seperti : karangan-karangan dalam surat kabar, majalah, dan bukubuku.

2. Berbagai Cara Melakukan Kepemimpinan
Cara seorang pemimpin melakukan kepemimpinannya dapat digolongkan atas beberapa golongan antara lain :


a. Otokratis
Kepemimpinan secara otokratis adalah pemimpin menganggap organisasi tersebut millknya sendiri. Tipe pemimpin seperti ini tidak mau menerima kritikan, saran dan pendapat, dan Juga ia menganggap bawahan itu hanya sebagai alat saja. Akibatnya bawahan cenderung untuk mengabaikan perintah atau tanggungjawab, apabila tidak ada pengawasan langsung. ara seperti ini dapat dijumpai dalam pemerintahan feodal
b. Militeristis
yaitu pemimpin yang memiliki sifat-sifat antara lain seperti dibawah ini :
Untuk menggerakkan bawahannya ia menggunakan sistem perintah yang biasa digunakan dalam ketentaraan,
Gerak-geriknya senantiasa tergantung kepada pangkat dan Jabatannya,
Senang akan formalitas yang berlebih-lebihan,
Menuntut disiplin keras dan kaku dari bawaftannya,
Senang akan upacara-upacara untuk berbagai keadaan,
Tidak menerima kritikan dari bawahan, dab.
c. Paternalistis
Cara ini boleh dikatakan untuk seorang pemimpin yang bersifat "kebapakan", ia menganggap bawalhannya sebagai ”anak" atau manusia yang belum dewasa yang dalam segala hal masih membutuhkan bantuan dan perlindungan (overly protective). Dengan demikian maka pemimpin semacam ini jarang atau tidak memberikan sama sekali kepada anak buahnya untuk bertindak sendiri, untuk mengambil inisiatif atau mengambil keputusan, sehingga daya kreasi dan fantasinya kurang atau tidak berkembang.
Pemimpin ini tidak ada sifat keras dan keiam terhadap mereka yang dipimpin, bahkan hampir dalam segala hal sikapnya baik dan ramah. walaupun ada sifat yang negatif padanya yaitu bersifat Maha tahu.



d. Kharismatis
Sampai saat ini belum dapat ditemukan mengapa pemimpin itu memiliki kharisma. Tetapi pemimpin tersebut mempunyai daya tarik yang amat besar, sehingga pengikutnya amat Besar pula jumlahnya kepatuhan dan kesetiaan pengikut rupa-rupanya timbul dari kepercayaan Yang penuh kepada pemimpin yang dicintai, dihormati, disegani, dikagumi. Salah satu contoh adalah Jendral Soedirman merupakan pemimpin yang kharismatis. Tampang Jendral tidak dimiliki, apalagi kekuatan jasmaniah, waktu perang kesehatannya buruk. Pendidikan umum dan pendidikan militernyapun tidak dapat dikatakan tinggi, akan tetapi apa sebabnya para anak buahnya amat patuh dan setia ? tidak lain karena beliau mempunyai kharisma. Contoh lain Mahatma Gandhi, John Kennedy, Winston Churhill, John of Arc, Musolini, Hitler, dsb.
e. Laisses Faire (secara bebas)
Sebenarnya dalam hal ini pemimpin tidak memberikan pimpinan, artinya "pemimpim mebiarkan bawahannya untuk berbuat sekehendak sendiri-sendiri". Akibatnya kekuasaan dan tanggung-Jawab menjadi simpang siur, keadaan tidak mudah dikendalikan dan akan meniadi kacau.
f. Demokratis
Cara demokratis perlakuannya bersifat kerakyatan dan persaudaraan, mengharapkan kerjasama dengan bawahan yang tidak dipandang sebagai alat tetapi dipandang sebagai manusia. Dalam pelaksanaan tugas pemimpin semacam ini mau menerima saran dan kritikan baik yang diminta maupun tidak demi suksesnya tujuan organisasi. Ia memberi kebebasan yang cukup kepada bawahannya karena menaruh kepercayaan yang cukup bahwa mereka itu akan berusaha sendiri menyelesaikan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya.
Pada zaman sekarang pemimpin semacam inilah yang diharapkan dan dituntut orang banyak, oleh karena kepemimpinan yang demokratis segala usaha dapat dikatakan dikerjakan dengan lebih bergairah dan mantap.


3. Azas-azas Kepemimpinan
Azas-azas apakah yang menimbulkan seorang pemimpin ?
1) Sifat-sifat seseorang, seperti ketangkasan, keberanian, kecerdasan, kecepatan mengambil keputusan, dsb-nya.
2) Tradisi kepemimpinan yang bersumber tradisi ini ada dua kemungkinan yaitu :
Menurut azaz kelahiran/keturunan seperti anak raja menjadi raja, anak bangsawan menjadi bangsawan, bupati diangkat dari anak bupati dan lain sebagainya, yang berlaku dalam masyarakat feodal.
Menurut tanur yang harus disebut azas senioritas atau azas ansienitas seperti: diangkat menjadi pemimpin karena lebih banyak pengalaman, lebih lama dinasnya atau lebih tua umurnya.
3) Kekuatan magis, dalam seiarah banyak kejadian, bahwa orang-orang munul menjadi pemimpin dalam suatu bidang oleh karena mereka itu memiliki kekuatan magis.
4) Prestige, banyak terjadi bahwa oleh sebab seseorang mempunyai prestige baik lalu dijadikan pemimpin dan walaupun pindah tempat atau pindah pekerjaan, orang lain itu karena prestigenya yang baik masih tetap meniadi pemimpin.
5) Kebutuhan yang kondisioner, seperti dalam suatu lingkungan atau suatu kelompok sesorang ingin meniadi pemimpin dan kebetulan orang-orang dalam lingkungan atau kelompok itu membutuhakan pemimpin dan mau menyerah pada pimpinan orang tersebut.
6) Kecakapan khusus, oleh karena seseorang dalam suatu lingkungan atau kelompok mempunyai kecakapan khusus dalam bidang yang membutuhkan pemimpin, maka orang tersebut diangkat menjadi Pemimpin dalam kelompok itu.
7) Secara kebetulan, misalnya karena secara kebetulan ada suatu tempat pimpinan yang lowong, maka sekonyong-konyong ia diangkat menjadi pemimpin, mengisi lowongan itu.

4. Teori-teori timbulnya Kepemimpinan
1) Teori Bakat, yang mengatakan bahwa kepemimpinan itu memerlukan bakat, namun bakat ini harus dikembangkan dengan melatih diri dalam sifat-sifat dan kebiasaan tertentu dengan berpedoman kepada teori tentang berbagai sikap mental yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
2) Teori lingkungan, yang mengatakan bahwa masa, periode, tempat, lokasi, situasi dan kondisi atau keadaan tertentu.
3) Teori hubungan kepribadian dengan situasi. Para penganut teori ini, dengan perbedaan-perbedaan yang tidak besar, berpendapat bahwa kepemimpinan seseorang itu ditentukan oleh kepribadiannya dengan menyesuaikannya pada situasi dan kondisi yang dihadapinya.
4) Teori hubungan antar manusia, adalah kepemimpinan harus memberikan hidup kepada organisasi demikian rupa, sehingga orang-orang bersedia untuk menyumbangkan karya dan daya upayanya kepada organisasi. oleh karena dengan berbuat demikian kebutuhan-kebutuhan pribadinya sendiri sebagai manusia juga ikut dipenuhi pula.
5) Teori beri memberi, bahwa antara pemimpin dan yang dipimpin harus terdapat tukar menukar keuntungan.
6) Teori Genetis, mengatakan bahwa seorang pemimpin itu memang sekali dilahirkan untuk menjadi pemimpin, artinya ia dilahirkan di dunia dengan bakat-bakat kepemimpinan.
7) Teori Sosial, teori ini boleh dikatakan kebalikan teorigenetia,karena menurut penganut teori sosial bahwa pemimpin tidak dilahirkan atau ditakdirkan meniadi pemimpin, akan tetapi menjadi pemimpin karena pengaruhmasyarakat, dari luar, artinya orang dapat saja menjadi pemimpin, apabila diberi pendidikan dan pengalaman serta kesempatan yang cukup.
8) Teori Ekologis, yaitu toeri Yang menggabungkan sifatsifat positif dari teori sosial dan teori genetis, artinya bahwa seseorang itu hanya akan bisa menjadi pemimpin Yang baik apabila ia pada waktu dilahirkan telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan dan bakat-bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan Yang teratur.

5. Fungsi-Fungsi Kepemimpinan
Agar kelompok berjalan atau organisasi dapat berialan dengan baik dan efektif, seorang pemimpin harus melaksanakan dua fungsi utama yaitu :
Fungsi fungsi yang berhubungan dengan tugas (task related) atau pemecahan masalah yang menyangkut pemberian saran penyelesaian, informasi dan pendapat.
Fungsi fungsi yang berhubungan dengan pemeliharaan kelompok (group maintenance) atau sosial yang menyangkut segala sesuatu Yang dapat membantu kelompok berjalan lebih lancar persetujuan dengan kelompok lain, penengahan perbedaan pendapat, dan sebagainya.

6. Gaya-gaya kepemimpinan
Dua gaya kepemimpinan yang telah dirumuskan oleh para ahli manjemen :
Gaya dengan orientasi tugas (task oriented), Pemimpin yang berorientasi pada tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan seoara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksnakan sesuai dengan yang diinginkannya. Pemimpin dengan gaya kepemimpinan seperti ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan.
Gaya dengan orientasi karyawan (employee oriented), Pemimpin yang beroreientasi pada karyawan mencoba untuk memotivasi bawahan/anggota dibanding mengawasi mereka. Mereka mendorong para anggota kelompok/organsisasi untuk bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok.

7. Peranan seorang pemimpin
Sebagai seorang pencipta
Seorang pemimpin harus mampu mencetuskan pikiran atau ide baru. Ia harus mempunyai konsepsi yang baik, tersusun rapi dan realistik sehingga ia menjalankan tugasnya dengan teguh menuju ide yang telah ia cetuskan itu dan tidak akan mudah terpengaruh oleh pikiran-pikiran orang lain.
Sebagai seorang perencana
Pemimpin hendaknya mampu membuat rencana yang tersusun baik menurut fakta-fakta yang objektif tentang masalah yang dipimpinnya, sehingga segala tindakan dan kegiatannya bukan dilakukan sembarangan.
Sebagai wakil kelompok
Seorang pemimpin itu tidak saja hanya memikirkan dan bertindak ke dalam untuk mengajak, mengarahkan, mengatur, membimbing dan mengawasi terhadap anak-buah organisasi, akan tetapi ia harus mewakili kelompoknya keluar dan ia harus menyadari bahwa segala kekurangan-kelebihan dan baik-buruk tindakannya diluar mencerminkan keadaan kelompok yang dipimpinnya.
Bertindak sebagai wasit atau hakim
Dalam menyelesaikan perselisihan atau menangani pengaduan-pengaduan antara para anak buahnya seorang pemimpin harus dapat menengahi dengan bertindak tegas secara objektif tanpa pilih kasih (Subjektif).
Bertindak sebagai seorang ayah
Bukan berarti ia bersikap maha tahu sebagai seorang ayah, atau menganggap bawahannya sebagai manusia yang belum dewasa, tetapi ia harus bertindak dan memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif dan mengembangkan daya kreasi dan fantasinya demi kemajuan mereka sendiri serta ia bersikap melindungi mereka pada tempatnya serta selalu memperhatikan nasib bawahannya.
Sebagai korban atau "kambing hitam"
Seorang pemimpin harus menyadari bahwa dirinya merupakantempat melemparkan keburukan-keburukan dan kesalahan-kesalahan Yang teriadi dalam organisasinya. Ia harus relamenjadi kambing hitam pelemparan-pelemparan itu, sebab akhirnya ialah sebagai pemimpin kelompok harus bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup kelompoknya dan anggotanya.
Menjalankan peranan sesuai dengan rumusan Ki Hajar Dewantara yang berbunyi:
(a) Ing ngarso sung tulodo (dimuka memberi tauladan)
(b) Ing madya mangun karso (ditengah membangunkan kemauan)
(c) Tut wuri handayani (dibelakang selalu mempengaruhi)

8. Fungsi Kepemimpinan
1) Fungsi Perencanaan
Oleh karena pekerjaan seorang pemimpin itu terdiri dari banyak tindakan-tindakan yang berlain-lainan dan berubah-rubah, maka guna kelanjutan kegiatan-kegiatan itu ia harus harus membuat perencanaan, perencanaan yang terus menerus, bukan saja perencanaan yang menyeluruh bagi organisasinya, tetapi juga rencana bagi diri sendiri selaku pemimpin dan penanggung jawab berhasilnya seluruh pekerjaan.
2) Fungsi memandang ke depan
Dari hasil senantiasa memandang ke depan seorang pemimpin harus memiliki pikiran dan penglihatan yang mampu meneropong apa yang terjadi dan mampu memandang ke depan dengan penuh kewaspadaan dan cukup sensitip akan dapat mengurangi dan masalah organisasi yang timbul sebelum berkembang.
3) Fungsi pengembangan loyalitas
Seorang pemimpin harus memberi teladan dalam pikiran, kata-kata dan tingkah lakunya sehari-hari menunjukkan kepada bawahannya bahwa ia sendiri tidak pernah mengingkari atau menyeleweng dari loyalitasnya
4) Fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan Rencana
Fungsi kepemimpinan selain membuat rencana juga mengawasi apakah betul-betul rencana tersebut dilaksanakan sebagaimana mestinya sampai tercapainya tujuan yang telah ditentukan. Pemimpin harus Pula dapat memberikan jawaban atas pertanyaan dari bawahan mengapa rencana itu harus dilakukan demikian ? Dengan kata lain setiap rencana yang telah dibuat oleh pemimpin hendaknya dikembangkan dan diatur sedemikian rupa, sehingga mempermudah pekerjaan pelaksananya.
5) Fungsi mengambil keputusan
Pemimpin harus mampu mencari dan menetapkan keputusan yang bijaksana bila di dalam organisasi teriadi permasalahan yang serius ataupun yang tidak.
6) Fungsi memberi anugrah
Sebagai pucuk pimpinan dan pengawas ia harus aktif mengawasi segala kegiatan para anak buah atau para anggota, dalam organisasi yang dipimpinnya.